|
"Anjing menggigit manusia ataukah Manusia menggigit anjing ?"
Ini adalah pertanyaan yang ketika itu ditanyakan oleh guru Bahasa Indonesia ketika kami (yang masih SMU) diberi tugas untuk menulis sebuah artikel. Inti dari pertanyaan itu adalah mana yang lebih menarik untuk ditulis dalam sebuah artikel. Jelas, anjing menggigit manusia bukanlah hal yang aneh dan hal ini tidak menarik untuk ditulis, tetapi ketika manusia yang menggigit anjing maka inilah hal yang harus ditulis. Bagaimana mungkin seorang manusia berani dan bisa menggigit anjing. Dan, semoga saya salah tetapi pemberitaan dunia hiburan Indonesia memang seringkali menganut paham yang sama. Seringkali hal-hal yang benar dianggap biasa dan tidak perlu diberitakan, sedangkan hal-hal yang ganjil dan tidak membawa hal positif justru dianggap sangat menarik.
Spirit ini juga yang mengiringi nuansa pemberitaan masuknya nama Agnez Monica pada daftar nominasi World Music Awards. Ketika Agnez Monica masuk ke dalam daftar nominasi, para media Indonesia pun ramai melakukan pemberitaan tetapi hanya sebatas formalitas. Tetapi perlakuan yang berbeda diperoleh ketika ada suatu kontroversi yang mengiringi.
Tidak lama setelah nama Agnez Monica masuk ke dalam daftar nominasi, ada nama lain dari Indonesia yang masuk di kategori yang sama. Namun, ternyata dengan masuknya nama lain dari Indonesia ini mengundang pro dan kontra yang cukup tajam dari berbagai kalangan. Pro dan kontra atas segala sesuatu kejadian dapat terjadi dimana-mana dan untuk hal apapun juga, sehingga saya sangat menganggap wajar atas adanya pro dan kontra yang terjadi. Karena bagaimanapun tidak mungkin semua orang mempunyai pola pikir yang sama. Tetapi beberapa hari kemudian, tiba-tiba ada beberapa nama dari daftar nominasi tersebut yang hilang (termasuk nama Agnez Monica). Sampai hal ini, saya menganggap hal ini wajar karena mungkin terdapat kesalahan teknis sehingga ada nama-nama yang hilang. Tetapi, keesokan harinya nama Agnez Monica kembali muncul sedangkan nama penyanyi lain dari Indonesia tersebut hilang. Dan perubahan ini diiringi dengan masuknya nama penyanyi-penyanyi lain (diantaranya adalah Andrea Berg).
Bahkan sampai dengan tahap inipun, saya tidak menganggap ada suatu masalah. Karena ketika suatu award akan diselenggarakan maka panitia dari award bersangkutanlah yang mempunyai kekuatan mutlak untuk mengambil keputusan.
Tetapi, ini ternyata adalah awal dari suatu kontroversi yang tidak berujung. Karena kemudian kejadian ini diikuti dengan beredarnya e-mail yang merupakan bukti korespondensi antara pihak WMA dengan pihak manajemen penyanyi lain dari Indonesia tersebut perihal alasan dicabutnya nama yang bersangkutan dari daftar nominasi.

Isi dari e-mail ini yang kemudian menjadi kontroversi yang besar dan membuat media hiburan Indonesia ber-euforia. Tidak lama setelah e-mail kedua dirilis dan beredar di social media, di hari yang sama pula muncul beberapa headline yang pada intinya menyatakan bahwa Fans Agnes adalah penyebab utama dari keluarnya penyanyi tersebut dari ajang yang sama. Saya pun langsung mengirim e-mail menanyakan kebenaran berita tersebut. Jawaban yang saya peroleh dari email saya adalah :
“Kenapa kami menyimpulkan 'penggemar dari salah satu kontestan' karena tidak
logis ribuan masyarakat umum yang tidak punya kepentingan mau bela-belain
membombardir panitia utk minta salah satu kontestan digugurkan.
Kalau memang ingin mengklarifikasi poin yang dimaksud 'penggemar dari salah
satu kontestan' adalah bukan fans AM, silahkan mengirimkan surat bantahan
resmi dan akan kami muat dalam berita."
Jawaban macam ini membuat saya tertawa dan sedikit miris. Kenapa? 1) dari kalimat jawaban “KENAPA KAMI MENYIMPUKAN” artinya bahwa media bukan lagi hanya sebagai ajang penyampai berita berdasarkan fakta tapi ternyata juga ingin menjadi nara sumber itu sendiri, dimana untuk dapat menjadi nara sumber harus memenuhi beberapa criteria keahlian yang disertai dengan bukti-bukti yang kuat dan otentik serta dapat dipertanggungjawabkan. 2) dari kalimat jawaban “KARENA TIDAK LOGIS” artinya bahwa media ini membuat kesimpulan yang hanya berdasarkan asumsi pihaknya sendiri tanpa adanya bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. 3) dengan adanya kalimat tambahan “Kalau memang ingin mengklarifikasi.. silahkan.. dan akan kami muat dalam berita” bisa juga kita artikan bahwa media ini dengan sengaja melakukan pemberitaan yang tidak berdasar untuk “memancing” pihak yang dirugikan agar memberikan klarifikasi yang tentunya bisa dimanfaatkan mereka demi mendapatkan berita tambahan untuk kepentingan penjualan oplah media tersebut. Penulisan berita seolah-olah tidak perlu lagi berdasarkan fakta yang actual, hanya perlu berdasarkan ASUMSI TANPA BUKTI YANG DIBUAT OLEH SEKELOMPOK PIHAK YANG JUGA DIPERTANYAKAN WAWASAN DAN KEAHLIANNYA DALAM MENYIMPULKAN SUATU MASALAH TERSEBUT. Yah..kalau ternyata salah..silahkan diklarifikasi saja
Dan, kalau boleh saya analisa pada e-mail tersebut ada beberapa poin yang luput dari media. Entah memang sengaja diabaikan atau memang mereka tidak mengerti sama sekali.
TO BE CONTINUED..
|